Kamis, 14 Januari 2010

manajemen keuangan

SEJARAH AKUNTANSI MANAJEMEN

Kebanyakan prosedur perhitungan harga pokok produk (product costing) dan akuntansi manajemen yang digunakan pada abad 20 dikembangan antara tahun 1880 dan 1924. Perkembangan sebelumnya (sampai tahun 1914) menekankan pada perhitungan pada perhitungan harga pokok produk pada tingkat manajerial yaitu penelusuran tingkat laba perusahaan ke tiap produk dan menggunakan informasi ini untuk pengambilan keputusan strategis.

Mulai tahun 1925, setelah dikembangkannya pasar modal di USA, hampir semua usaha akuntansi manajemen untuk menghasilkan informasi bagi pemakai intern kemudian dihentikan dan diganti dengan penentuan harga pokok persediaan (inventory costing), yang merupakan pembebanan biaya produksi kepada produk sedemikian rupa sehingga harga pokok persediaan dapat dilaporkan kepada pemakai eksternal dalam laporan keuangan.

Laporan keuangan telah menjadi kekuatan yang membentuk desain sistem akuntansi biaya. Manajer dan perusahaan bersedia menerima informasi biaya rata-rata secara agregat atas tiap produk, karena mereka merasa tidak membutuhkan informasi biaya masing- masing produk yang lebih terinci dan akurat mengenai tiap produk.

Dalam tahun 1950-an dan 1960-an telah dilakukan beberapa usaha untuk memperbaiki manfaat sistem akuntansi biaya konvensional untuk kepentingan manajemen. Diperkenalkannya variable costing untuk penyempurnaan penentuan harga pokok produk pada dasarnya ditujukan untuk memperbaiki penentuan harga pokok persediaan yang disajikan dalam neraca dan dalam perhitungan rugi laba. Perbaikan akuntansi biaya pada saat itu pada hakikatnya hanya terpusat pada bagaimana membuat informasi akuntansi keuangan lebih bermanfaat bagi pemakai luar, tidak ditujukan untuk menghasilkan

informasi akuntansi yang khusus diperuntukkan bagi kepentingan manajemen.

Pada tahun 1980-an dan 1990-an banyak ditemukan bahwa praktek-praktek akuntansi manajemen tradisional sudah tidak mampu lagi melayani kebutuhan manajerial. Kalkulasi biaya produk yang lebih akurat lebih berguna, dan yang menjelaskan secara rinci penggunaan masukan, dibutuhkan untuk memungkinkan manajer meningkatkan kualitas, produktifitas, dan mengurangi biaya. Sebagai tanggapan terhadap kelemahan akuntansi biaya manajemen tradisional, berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan sistem akuntansi manajemen baru yang dapat memenuhi kebutuhan lingkungan ekonomi dewasa ini.

TREND YANG MEMPENGARUHI AKUNTANSI MANAJEMEN

Trend yang menyebabkan perubahan akuntansi manajemen adalah:

1. Kemajuan teknologi informasi.

2. Implementasi just-in time (JIT) manufacturing.

3. Meningkatnya tuntutan mutu

4. Meningkatnya diversifikasi dan kompleksitas produk, serta semakin pendeknya daur hidup produk.

5. Diperkenalkannya computer-integrated manufacturing.

TEMA BARU DALAM AKUNTANSI MANAJEMEN

Lingkungan ekonomi telah mensyaratkan perkembangan praktik-praktik akuntansi manajemen yang inovatif dan relevan. Beberapa tema baru dalam Akuntansi Manajemen adalah:

1. Manajemen Berdasarkan Aktivitas (Aktivity Based Management).

Permintaan akan informasi akuntansi manajemen yang lebih akurat dan relevan telah mengarah pada perkembangan manajemen berdasarkan aktivitas. Manajemen berdasarkan aktivitas adalah suatu pendekatan di seluruh sistem dan terintegrasi, yang memfokuskan perhatian manajemen pada berbagai aktivitas, dengan tujuan meningkatkan nilai untuk pelanggan (customer value) dan laba sebagai hasilnya.

Manajemen berdasarkan aktivitas menekankan pada biaya berdasarkan aktivitas /Activity Based Costing (ABC) dan analisis nilai proses. Biaya berdasarkan aktivitas meningkatkan keakuratan pengalokasikan biaya. analisis nilai proses menekankan pada analisis aktivitas, yaitu mencoba untuk menetapkan mengapa aktivitas dilakukan dan seberapa baik dilakukan. Tujuannya adalah untuk menemukan cara melakukan aktivitas yang diperlukan secara lebih efisien, dan untuk menghapus aktivitas yang tidak memberikan nilai bagi pelanggan.

1. Orientasi pada pelanggan

Manajemen berdasarkan aktivitas memiliki tujuan untuk meningkatkan nilai bagi pelanggan dengan mengelola aktivitas. Nilai bagi pelanggan adalah fokus utama karena perusahaan dapat menciptakan keunggulan kompetitif dengan menciptakan nilai pelanggan yang lebih baik dengan biaya yang sama atau lebih rendah dari pesaing atau menciptakan nilai yang sama dengan biaya lebih rendah dari pesaing. Nilai bagi pelanggan adalah selisih antara apa yang pelanggan terima (produk total) dengan apa yang pelanggan serahkan (pengorbanan pelanggan).

2. Manajemen Kualitas Total (Total Quality Management)

Perbaikan berkelanjutan adalah hal yang mendasar sifatnya bagi pengembangan proses manufaktur yang sempurna. Kesempurnaan manufaktur adalah kunci utama bertahan hidup dalam lingkungan persaingan global. Filosofi dari manajemen kualitas total, dimana perusahaan berusaha menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan pekerjanya menghasi lkan produk yang sempurna (zero defect), sedang menggantikan sikap “kualitas yang dapat diterima” dimasa lalu.

3. Waktu sebagai unsur kompetitif.

Perusahaan kelas dunia mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pasar dengan cara memperpendek siklus desain, implementasi, dan produksi. Perusahaan mengirim produk dengan cepat melalui penghapusan waktu yang tidak bernilai tambah. Pengurangan waktu yang tidak bernilai tambah semakin besar seiring dengan meningkatnya kualitas. Tujuan keseluruhannya adalah meningkatkan daya tanggap terhadap pelanggan.

4. Efisiensi

kualitas dan waktu merupakan hal yang penting, namun peningkatkan dimensi tersebut tanpa peningkatan laba akan membuat kinerja menjadi sia-sia. Meningkatkan efisiensi adalah juga hal vital. Biaya adalah ukuran kritikal untuk efisiensi. Agar pengukuran efisiensi menjadi bernilai, biaya harus ditetapkan, diukur, dan dialokasikan dengan tepat; lebih jauh lagi, produksi keluaran harus berhubungan dengan masukan yang dibutuhkan, dan keseluruhan efek finansial perubahan produktivitas harus dikalkulasi.

5. Bisnis secara elektronik (E-business)

E-business adalah semua transaksi bisnis dan pertukaran informasi yang dijalankan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Perdagangan secara elektronik (E-commerce) adalah jual beli produk dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Bisnis dengan cara ini menyediakan kesempatan bagi sebuah perusahaan untuk memperluas penjualannya di seluruh dunia dan dapat menurunkan biaya secara siggnifikan jika dibandingkan dengan transaksi dengan menggunakan kertas.

PENGENALAN AKUNTANSI MANAJEMEN

1. Perbedaan antara akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen

  • Pengguna informasi akuntansi

Akuntansi manajemen berkaitan dengan penyajian informasi yang diperlukan oleh para anajer untuk membantu mereka dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengendalian. Sedangkan Akuntansi keuangan berkaitan dengan penyajian informasi bagi pihak eksternal perusahaan.

  • Segmen

Akuntansi keuangan melaporkan seluruh aktivitas organisasi, sedangkan akuntansi manajemen hanya fokus pada bagian kecil dari aktivitas organisasi, misalnya aktivitas suatu bagian/departemen atau suatu produk.

  • Aspek waktu

Akuntansi keuangan melaporkan apa yang telah terjadi di masa lalu, sedangkan akuntansi manajemen berkepentingan terhadap informasi masa yang akan datang (future) selain informasi masa lalu.

  • Aspek hukum

Terdapat keharusan secara hukum bagi perusahaan go publik untuk membuat akuntansi keuangan tahunan. Disisi lain akuntansi manajemen bersifat optional dan informasi biasanya dibuat apabila benefitnya lebih besar dibanding biaya pembuatannya.

  • Frekuensi pelaporan

Akuntansi keuangan diterbitkan secara periodik (biasanya tahunan), sedangkan para manajer biasanya membutuhkan penyajian informasi yang cepat ketika mereka melakukan pengambilan keputusan yang berkaitan dengan suatu aktivitas/masalah. Oleh karena itu, penyajian laporan akuntansi manajemenkemungkinan harus disajikan secara harian, mingguan, atau bulanan.

  • Keakuratan

Informasi akuntansi keuangan harus akurat, sebab jika tidak maka para pemakai/user dari pihak eksternal akan tidak percaya terhadap laporan akuntansi yang dibuat/diterbitkan. Disisi lain, para manajer seringkali memerlukan informasi secara cepat sehingga keakuratannya kurang terjamin, namun demikian biasanya sudah memadai untuk digunakan oleh para manajer sesuai dengan kebutuhannya.

2. Tujuan akuntansi manajemen

Akuntansi manajemen menaruh perhatian terhadap hal-hal sebagai berikut:

(a) Penghitungan akumulasi biaya untuk penilaian harga persediaan agar sesuai dengan keperluan pembuatan laporan untuk pihak eksternal.

(b) Penyajian informasi keuangan yang dapat membantu para manajer dalam pengambilan keputusan dan aktivitas perencanaan.

(c) Penyajian informasi keuangan untuk membantu para manajer dalam mengendalikan aktivitas yang menjadi tanggungjawabnya.

3. Klasifikasi biaya untuk penilaian persediaan dan pengukuran keuntungan.

Tidak seluruh biaya melekat pada produk dan dimasukkan dalam penilaian persediaan. Biaya yang tidak dimasukkan ke dalam komponen biaya produk dan muncul sebagai suatu pengeluaran pada suatu periode ketika produk dibuat, diklasifikasikan sebagai biaya periode (period cost). Sedangkan seluruh biaya yang dialokasikan pada produk dan dimasukkan dalam penilaian persediaan, diklasifikasikan sebagai biaya produk (product cost). Oleh karena itu, biaya produk bersesuaian dengan penjualan (sales) dan diklasifikasikan sebagai pengeluaran (expenses) pada suatu periode dimana barang terjual.

· Klasifikasi berdasarkan biaya lansung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost).

Biaya langsung adalah biaya-biaya yang secara khusus dapat ditelusuri atau diidentifikasi sebagai komponen langsung dari biaya produk. Total biaya langsung ini dalam beberapa literatur juga sering disebut dengan istilah biaya utama (prime cost).

Biaya tidak langsung adalah semua biaya yang tidak dapat diidentifikasi secara khusus terhadap suatu produk dan dibebankan kepada seluruh jenis produk secara bersamaan. Biaya tidak langsung ini sering disebut juga dengan istilah biaya overhead (overhead cost).

4. Klasifikasi biaya untuk pengambilan keputusan.

· Klasifikasi berdasarkan biaya relevan (relevant cost) dan biaya tidak relevan (irrelevant cost).

Biaya relevan adalah semua biaya di masa yang akan datang yang akan terpengaruh oleh suatu pengambilan keputusan (decision making), sedangkan biaya tidak relevan adalah semua biaya di masa yang akan datang yang tidak terpengaruh oleh suatu pengambilan keputusan.

Misalnya perusahaan sedang mempertimbangkan dua alternatif keputusan apakah membeli suatu komponen dari pihak luar (alternatif-1), atau membuat sendiri (alternatif-2). Jika komponen tersebut dibeli dari pihak luar maka biaya yang akan keluar adalah Rp 1.000,-. Sedangkan apabila

komponen tersebut dibuat sendiri maka perkiraann biaya yang akan terjadi adalah:

Biaya bahan baku langsung Rp 200,-

Biaya tenaga kerja langsung Rp 300,-

Biaya overhead variabel Rp 400,-

Biaya overhead tetap Rp 500,-

----------- (+)

Jumlah Rp 1.400,-

Secara sepintas terlihat bahwa membeli komponen dari luar akan lebih murah. Namun demikian, diasumsikan bahwabiaya overhad tetap (fixed overhead) merupakan bagian dari biaya overhead pabrik yang akan terjadi meskipun komponen tidak dibuat sendiri. Dengan kata lain, pengeluaran biaya overhead tetap, tidak akan terpengaruh oleh pengambilan keputusan.

Lebih lanjut, diasumsikan bahwa biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead variabel akan nol apabila komponen tidak dibuat sendiri. Dengan kata lain, biaya-biaya tersebut akan terpengaruh oleh pengambilan keputusan. Biaya relevan untuk membuat komponen adalah Rp 900,- (= Rp 200,- + Rp 300,- + Rp 400,-).

Oleh karena itu, maka keputusannya adalah komponen tidak dibeli dari pihak luar. Artinya, perusahaan lebih baik membuat sendiri, karena biaya yang akan keluar apabila membeli komponen, yaitu Rp 1.500 (Rp 1.000,- + Rp 500,-) lebih besar dibanding membuat sendiri (Rp 1.400).

  • Sunk cost:

Biaya yang sudah terjadi di masa lalu yang tidak terpengaruh oleh keputusan di masa yang akan datang. Sunk cost merupakan biaya yang tidak relevan dengan pengambilan keputusan. Misalnya, biaya bahan baku yang sudah dibeli dan tersedia di gudang.

  • Opportunity cost: Biaya karena kehilangan suatu peluang alternatif.

Biaya yang diukur atas kehilangan suatu peluang yang dikorbankan karena telah memilih alternatif peluang lain.

· Klasifikasi berdasarkan perilaku biaya.

1. Biaya variable (variable cost)

Biaya variabel adalah biaya yang berubah secara total seiring dengan berubahnya volume produk yang dibuat. Sehingga hubungan antara total biaya variabel dengan total unit barang yang diperoduksi adalah linier (garis lurus). Sedangkan biaya per unit-nya adalah tetap. Contoh: Biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung.

2 Biaya tetap (fixed cost)

Biaya tetap, seperti biaya penyusutan dan biaya sewa akan selalu tetap (constant) dalam suatu rentang waktu/periode tertentu. Perlu dicatat bahwa biaya tetap akan selalu konstan pada semua tingkat produksi (volume), sedangkan biaya tetap per unit akan menurun seiring dengan meningkatnya volume peroduksi.

3. Biaya semi-variable (semi-variable cost)

Meliputi komponen biaya tetap maupun biaya variabel. Contoh: Biaya pemeliharaan mesin reguler/periodik dan biaya pemeliharaan mesin yang menyesuaikan dengan tingkat produksi.

4. Biaya semi-tetap (semi-fixed cost)

Biaya yang tetap atau konstan pada level aktivitas tertentu, tetapi kadangkadang meningkat apabila melewati batas tertentu (critical point). Contoh: Gaji pengawasan/supervisi dan sewa mesin.

5. Klasifikasi biaya untuk pengendalian.

· Klasifikasi berdasarkan biaya yang dapat dikendalikan dan biaya yang tidak dapat dikendalikan.

Biaya yang dialokasikan pada pusat pertanggungjawaban (responsibility center) harus diklasifikasikan apakah biaya tersebut termasuk biaya yang dapat dikendalikan (controlable cost) atau tidak dapat dikendalikan (non-controlable) oleh manajer pada suatu pusat pertanggungjawaban.

Biaya yang dapat dikendalikan (controlable cost) didefinisikan sebagai biaya biaya yang dapat diatur/dikendalikan oleh manajer dalam suatu pusat pertanggungjawaban. Jika asumsi tersebut tidak dapat dipenuhi, maka biaya biaya tersebut dapat diklasifikasikan sebagai biaya yang tidak dapat dikendalikan (non-controlable cost).

Biaya tenaga kerja langsung dan biaya bahan baku langsung biasanya termasuk ke dalam klasifikasi controlable cost, sedangkan biaya sewa dan penyusutan dapat diklasifikasikan sebagai non-conterolable cost.